Suluk Pangkur Gedhong Kuning

kyai sengkelat

Suluk karya Sunan Kalijaga ini ditembangkan dengan irama Sekar Pangkur Gedhong Kuning yang mengalun mendayu-dayu, penuh nuansa sugestif-kontemplatif. Kata-kata, kalimat dan iramanya dimaksudkan untuk menggalang kekuatan batin dan rasa percaya diri yang tinggi guna menundukkan segala kekuatan di luar diri sang penembang, terutama segala kekuatan jahat dari segala jenis makhluk, baik makhluk halus maupun bukan.

Bila naskah-naskah suluk karya Sunan Bonang banyak ditemukan dan antara lain tersimpan di Museum Perpustakaan Leiden, Belanda, tidak demikian halnya dengan naskah-naskah Sunan Kalijaga. Suluk-suluk dan kisahnya pada umumnya tersimpan dan tersebar dari mulut ke mulut. Jika ada itupun merupakan karya pujangga jauh sesudah masa kehidupannya. Misalkan, “Suluk Ling-lung Sunan Kalijaga” adalah karya Iman Anom (cucu Ranggawarsito) tahun 1884 M atau sekitar tiga abad kemudian. Juga “Serat Kaki Walaka” yang bisa disebut sebagai naskah biografi Sunan Kalijaga, merupakan naskah tua koleksi Trah Keluarga Besar Kanjeng Sunan Kalijaga, yang tidak diketahui siapa penulisnya dan dibuat pada tahun berapa. Demikian pula kitab “Tembang Babad Demak”, dari Kasultanan Yogyakarta, yang sebagian di  antaranya mengkisahkan tentang Sunan Kalijaga, melihat gaya bahasa Jawa yang dipakai, diperkirakan dibuat sekitar akhir abad ke – 19.

Oleh sebab itu tidak mengherankan bila tembang-tembang suluk Sunan Kalijaga yang pada umumnya sangat populer itu, mempunyai banyak versi, tak terkecuali suluk “Singgah- Singgah”. Jumlah baitnya misalkan, ada yang menyebutkan 12, ada yang 13 dan lain-lain.

Pun kata-katanya, sebagai contoh: “Singa sirah singa suku, singa tenggak singa wulu singa bahu”, ada yang menyatakan “Sing asirah sing asuku, sing atenggak sing awulu sing abahu”. Penulis termasuk yang memilih versi kedua, karena bisa dipahami artinya. Huruf “a” di sini berarti awalan kata yang berfungsi sebagai pemanis syair, terutama jika digabung dengan kata “sing”, akan terbentuk ucapan “singasirah” dan seterusnya, yang bisa memberikan nuansa perkasa bagaikan singa.

Berikut contoh beberapa bait Suluk Singgah-Singgah tersebut:

Singgah-singgah kala singgah

Tan suminggah Durgakala sumingkir

Sing asirah sing asuku

Sing atan kasat mata

Sing atenggak sing awulu sing abahu

Kabeh pada sumingkira

Hing telenging jalanidi

Aja anggodha lan ngrencana

Apaningsun ya sun jatining urip

Dumadiku saka henu

Heneng henenging cipta

Singgangsana hing tawang-tawang prajaku

Sinebut pura kencana

Bebetenging rajeg wesi (ada yg menyebut “rajah wesi”).

Ana kanung saka wetan

Nunggang gajah telale elar singgih

Kullahu marang bali kul

Jim setan brekasakan

Amuliha mring tawang-tawang prajamu

Eblise ywa kari karang

Kulhu bolak-balik.

Geger setan wetan samya

Anerus jagad kulon playuning dhemit

Ing tengah Bathara Guru

Tinutup Nabi Suleman

Daya setan brekasakan ajur luluh

Ki jabang bayi wus mulya

Liwat siratal mustakim.

Sun langgeng amuja mantra

Pan jaswadi putra ing kodratmanik

Laa ilaaha ilallah

Muhammad Rasulullah

Sallallahu alaihi wasallam

Waalaekumsalam

Puniku pupuji mami.

Leave a Reply