27 Aug, 2014

Sistem Pendidikan yang Salah Kaprah

Saat ini pendidikan kita adalah menanam buah, bukan menanam benih. Murid di sekolah dicekoki buah yang sudah matang, sehingga kepandaian yang mereka miliki adalah kepandaian sekolah bukan kepandaian kehidupan. Kurikulum pendidikan kita saat ini mengurung kreativitas para murid di sekolah. Sistem yang ada dibuat sedemikian rupa agar murid dan orang tua dihinggapi rasa phobia yang mendalam tentang kegagalan saat menghadapi ujian.

Ujian Nasional (UNAS) telah menjadikan angka-angka yang tercetak dalam selembar kertas menjadi sebuah bukti tunggal keberhasilan murid dalam proses belajar. Tidak peduli bagaimana perilaku seorang murid di luar sekolah dalam bergaul dan bermasyarakat, asalkan nilai UNAS mereka di atas rata-rata yang dipersyaratkan, mereka dinyatakan lulus dari jenjang pendidikan tersebut. Penilaian terhadap akhlak dan perilaku murid hanya menjadi faktor pelengkap, bahkan biasanya lebih fleksibel untuk dinegosiasikan dalam proses penentuan kelulusan seorang murid dari sekolahnya.

Konsep UNAS yang ada di Indonesia saat ini memaksa murid untuk menguasai semua mata pelajaran yang diujikan. Konsep yang ada tidak mengakomodir murid untuk menguasai salah satu mata pelajaran saja. Mau tidak mau murid harus memahami semuanya. Seorang murid tidak boleh hanya pandai dalam matematika, namun ia juga harus pandai dalam bahasa Inggris. Yang lebih aneh lagi adalah, pendidikan agama tidak menjadi komponen mata pelajaran yang diujikan dalam UNAS. Padahal, dalam agama itulah murid diajarkan tentang perilaku dan akhlak dalam kehidupan. Sehingga kemudian seorang murid tidak masalah dia sholat atau tidak, dia ngaji atau tidak, dia puasa atau tidak. Asalkan dia lulus UNAS maka dia dinyatakan sebagai siswa yang berprestasi!

Sistem pendidikan inilah yang kemudian berperan besar dalam kemunduran proses pelestarian kesenian dan kebudayaan Indonesia. Sementara, ajaran orang tua zaman dahulu adalah kejujuran. Jujur adalah pelajaran utama yang diajarkan orang tua di rumah, sehingga karakter seorang anak sudah terbangun sejak ia masih dibawah bimbingan ibunga di rumah. Saat ini, kita justru mendapati orang tua bekerjasama dengan pihak sekolah untuk melakukan tindak kecurangan dalam proses pelaksanaan UNAS. Berapa banyak kita lihat orang tua justru ikut mengeluarkan uang untuk mendapatkan bocoran kunci jawaban.

UNAS menjadi standar yang harus dipenuhi oleh semua murid di Indonesia. Tidak peduli keadaan mereka di sekolah. Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan tidak peduli bagaimana situasi di daerah, dimana masih banyak sekolah-sekolah yang tidak layak melaksanakan proses pembelajaran. Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan juga tidak peduli tentang masih adanya siswa yang memiliki keterbatasan fasilitas belajarnya di rumah. Semua dipukul rata bahwa semuanya wajib mengikuti standar yang sama dalam proses penentuan kelulusan dalam satu jenjang satuan pendidikan. Belum lagi soal kesejahteraan guru sebagai proses transformasi ilmu itu sendiri.

Realita ini semakin memperkuat bahwa sebenarnya pendidikan kita justru mengalami kemunduran yang luar biasa dari sebelumnya. Standar pendidikan yang dirumuskan oleh Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan justru menjadikan kualitas anak-anak kita berada dalam titik nadir. Kita lihat bagaimana fenomena yang terjadi saat ini, ketika akan menghadapi UNAS seluruh elemen sekolah menjadi sangat religius. Mempersiapkan UNAS dengan persiapan yang berbau agamis. Dka bersama, dzikir bersama, hingga sholat tahajud bersama di sekolah. Namun pada prosesnya, mereka tetap saja melakukan kecurangan pada saat pelaksanaannya. Ketika merayakan kelulusan, yang mereka lakukan justru bertolak belakang dengan hasil yang seharusnya mereka dapatkan di sekolah.

Seorang dosen atau guru ibaratnya adalah seorang petani. Ia menanamkan biji-bijinya dan benih-benihnya kepada muridnya. Muridnya yang kemudian menyuburkannya menjadi tanaman, hingga pada saatnya tanaman tersebut berbuah yang kemudian manfaatnya bisa dinikmati oleh semua yang ada di sekitarnya. Namun sekarang sistem pendidikan di Indonesia menjadikan guru menanam buah kepada muridnya. Dosen menanam buah kepada mahasiswa yang ia ajar. Sehingga representasi murid sama persis dengan apa yang diberikan oleh gurunya di sekolah. Tidak ada ruang kreatifitas bagi murid untuk mengeksplorasi lebih jauh dari apa yang diberikan oleh gurunya. Apa yang ditampilkan oleh murid sama persis apa yang diberikan oleh gurunya. Buah yang diberikan oleh gurunya, buah itu juga yang kemudian ia pamerkan kepada orang lain yang ia temui di luar sekolah.

You may also like...

Leave a Reply