Sibuk Bercita-Cita, Lupa Menjadi Diri Sendiri

Pernahkah untuk berpikir kembali tentang ingatan  ketika  masih kecil? Ketika ada tetangga yang bertamu tiba-tiba mereka mengucap, “eh lucunya, cepet gedhe, pinter ya besok gede mau jadi apa?” dan pada saat itu entah orang tua atau mungkin tetangga yang lain tiba-tiba menyahut, “Pinter, besok gede jadi dokter dong.” Atau ingat lagu anak-anak yang menceritakan tentang cita-cita? Bahkan sampai kita sekolah tingkat atas pun masih selalu digempur dengan pertanyaan cita-cita. Yang aku bingung disini, apakah yang dimaksud dengan cita-cita? Impian untuk menjadi sesuatu, tujuan hidup, atau apa?

Oke deh, sedikit bercerita cita-cita dari sudut pandangku sendiri, disini aku berperan menjadi tokoh utama. Hehe. Aku masih ingat ketika masih TK bercita-cita ingin menjadi pilot helikopter. Alasannya cukup unik karena memang ketika itu aku sangat suka dengan yang namanya helikopter. Dari bentuknya sudah lucu, mirip seekor capung. Kebetulan juga rumahku juga dekat dengan latihan tempur TNI AD, jadi sering lihat helikopter yang mendarat ketika itu. Cita-cita selanjutnya yang kuingat ialah ketika SMP, saking demennya dengan yang namanya main bola dikala itu akhirnya menjadi pemain bola ialah impianku. Menjadi pemain profesional, bermain di klub eropa yang ketika itu liga Italia ialah impianku. Tapi impian ini akhirnya memudar setelah bergantinya dari celana pendek warna biru menjadi celana panjang abu-abu. Masa SMA berubah cita-citaku dari menjadi pemain bola kemudian menjadi anak band, maklum ketika itu lagi demen-demennya musik cadas, punk rock menjadi santapanku tiap hari. Cita-cita itupun hanya bertahan hingga aku kelas tiga. Di kelas tiga, cita-cita berubah lagi karena memang harus dipikir matang-matang karena memang nantinya berhubungan dengan jurusan apa yang akan kuambil ketika kelak kuliah. Dalam pelajaran, aku sangat anti dengan yang namanya hitung-hitungan. Matematika dan fisika adalah mimpi burukku, sehingga aku harus menghindari dari dua pelajaran itu ketika kuliah. Ketertarikanku akan dunia biologi yang akhirnya berpikir untuk menjadi dokter. Tapi ini hanya bertahan hingga setelah aku tahu bahwa biaya untuk masuk ke kedokteran mahal banget. Iya mahal karena ketika itu aku cari info biaya dari 2 universitas swasta, yaitu: UII dan UMY. Impian menjadi dokter lenyap, akhirnya pilihanpun menjadi apoteker. Hingga akhirnya masuklah aku ke Fakultas Farmasi UGM.

Masa kuliah aku pun mempunyai cita-cita kelak lulus kuliah dapat bekerja di perusahaan besar farmasi dengan gaji yang besar pula tentunya. Hingga kuselesaikan masa study S1 selama 4,5 tahun cita-citaku belum berubah. Hingga masuklah aku ke program profesi, selama program profesi ini aku banyak ikut kegiatan seminar kewirausahaan. Hingga akhirnya mindset pikiranku pun berubah, aku kepingin jadi pengusaha sehingga aku punya freetime lebih banyak. Yang berwujud aku keluar dari kampus, aku tidak melanjutkan kuliah profesiku sampai selesai.
Menjadi wirausaha tidak seperti juga bayanganku yang selalu enak, jatuh bangun kulalui. Rugi besar kualami, mungkin sudah puluhan juta lenyap ketika aku di fase ini. Akhirnya aku menemukan titik jenuh, karena aku tidak nyaman dalam dunia itu semua. Dari situ aku menelaah lebih dalam, berdiam diri, hingga mengelana ke suatu tempat tak bernama.

Jiwaku terus mencari kenyamanan dan aku pun mencoba mengikuti bisikan hati. Kegiatan seni, sastra, mempelajari budaya dan sejarah ternyata lebih membuka ruangan itu. Hingga aku menemukan titik dimana aku tidak harus menjadi apapun, kecuali bermanfaat bagi sekitar. Tidak layak menjadi siapapun selain menebar kasih pada siapapun. Mungkin sebuah pelajaran juga yang bisa kuambil, sebuah mindset yang ditanamkan dari bawah sadar ketika kecil ternyata berimbas hingga dewasa. Mungkin mereka juga tidak faham kalau kata “cita-cita” yang ditanamkan dari kecil ternyata mendorongku untuk menjadi apa dan ingin menjadi siapa. Sehingga aku pun lupa untuk menjadi diriku sendiri. Menjadi diri sendiri tentunya tidak lebih sulit untuk menjadi orang lain, tapi nyatanya 24 tahun aku mencoba untuk menjadi orang lain. Hmmm sebuah pelajaran hidup yang mungkin hanya kutemui di Universitas Alam Semesta.

Leave a Reply