Revolusi Spiritual Orang Jawa Sebagai Tema Sastra

Orang Jawa memiliki cara sendiri untuk mengubah keadaan. Konsep dasarnya adalah (1) Ndandani kahanan atau (2) ngudhari kahanan, atau (3) madhangke kahanan . Ndandani kahanan dilakukan kalau keadaan di dalam diri dan luar diri itu telah rusak atau mengalami kerusakan dan perusakan. Ngudhari kahanan dilakukan orang Jawa kalau keadaan itu telah masuk dalam kategori ruwet dan bundhet . Sedang madhangke kahanan dilakukan manakala keadaan telah masuk ke dalam kategori peteng lelimengan, peteng ndedhet alias gelap gulita.

Perlu dijelaskan lebih dahulu tentang cara orang Jawa menghadapi perubahan, termasuk perubahan yang mengarah pada gejala kerusakan dan perusakan kahanan , mengarah pada ruweting dan bundheting kahanan atau mengarah pada kegelapan dan penggelapan kahanan . Ada tiga cara orang Jawa menghadapi perubahan yang demikian. Pertama, ketika kekuatan perubahan itu relatif ringan dan lemah maka orang Jawa akan langsung tumandang gawe untuk melawan dan mengubah perubahan negatif itu menjadi perubahan positif. Ini dapat dilakukan secara individual nganggo carane dhewe-dhewe atau dilakukan secara komunal bernama gugur gunung . Kedua, ketika kekuatan perubahan itu berat dan amat kuat sehingga orang Jawa merasa tidak berdaya untuk menghadapi atau mengubahnya secara langsung maka yang dilakukan adalah mengubah dirinya, menyesuaikan kalau mungkin. Orang Jawa menggunakan jurus mulur-mungkret . Kalau tidak mungkin menyesuaikan diri, maka orang Jawa akan mengubah dirinya dengan cara isolasi, menutup diri dan memberi kesempatan pada diri sendiri untuk melakukan konsolidasi kekuatan fisik, mental, intelektual, spiritual dan kekuatan moral kulturnya. Metodenya adalah dengan melakukan tapa brata, sesuci, maneges marang Pengeran. Ketiga, ketika konsolidsi mental, intelektual, spiritual dan moral kulturnya telah berhasil dilakukan maka orang Jawa akan keluar dari dirinya (keluar dari sanggar pamujan /goa/padepokan/tempat ibadah) untuk turun gunung, untuk menghadapi dunia ramai yang telah berubah menjadi makin rusak, bundhet dan gelap. Dalam kondisi yang demikian orang banyak atau wong akeh biasanya makin tidak berdaya (daya kemanusiaannya mengalami disfungsi), bingung (mengalami dismotivasi), salang tunjang (mengalami disorientasi hidup). Orang/pribadi Jawa yang memiliki karakter kuat karena gentur tapane, kasil le sesuci dan oleh jawaban saka Pengeran anggone maneges akan tumandang gawe untuk mengembalikan keadaan yang rusak menjadi tertib, keadaan yang ruwet dan bundhet menjadi udhar dan lancar dan keadaan peteng atau gelap menjadi padhang atau terang benderang.

Ditinjau dari motivasi, ketika orang Jawa melakukan tapa brata, sesuci dan maneges marang Pangeran maka keinginan yang mendorongnya dapat termasuk di antara dua kemungkinan. Dia akan melakukan itu karena karep (keinginan kecil-kecilan/berdasar cita-cita individual) atau karena gegayuhan (keinginan besar/berdasar cita-cita sosial, nasional, global). Pilihan-pilihan bertapanya, pilihan sesucinya dan pilihan metode maneges marang Pangeran bergantung karep atau gegayuhan yang diinginkan pelakunya.

Dari segi proses, maka orang Jawa yang melakukan kegiatan tapa brata, sesuci dan maneges marang Pangeran bisa masuk dua kemungkinan. Kemungkinan pertama, dia nglakoni-dadi-ngerti. Kemungkinan kedua, dia nglakoni-dadi-lali. Dalam hal ini orang Jawa sangat berhati-hati dan sebelum melakukan upaya mengubah kualitas dirinya itu dia akan bertanya kepada dirinya tentang sebenarnya apa yang dia inginkan dari nglakoni itu. Kalau upaya nglakoni itu didasarkan murni misalnya untuk memperbaiki kehidupan bersama dan kemudian dia melaksanakan tapa brata, sesuci dan maneges marang Pengeran maka dia punya harapan besar akan sampai pada proses nglakoni-dadi-ngerti. Akan tetapi jika dia nglakoni itu niatnya tidak murni misalnya karena dia ingin membalas dendam atas kemiskinan (kegagalan usaha), atau membalas dendam atas kegagalan percintaan (gagal mencintai pria/wanita) atau karena ingin membalas dendam atas kegagalannya berkuasa (gagal menjadi pejabat) dan niat ini tidak dimunikan total sebelum melaksanakan nglakoni , maka ada kemungkinan dia akan sampai pada proses nglakoni-dadi-lali. Orang semacam ini ketika telah jadi cenderung lupa diri dan menyalahgunakan kekuatan yang dia miliki untuk melampiaskan upaya membalas dendam itu.

Dalam konteks kahanan sekarang, orang Jawa memandang kalau kita berada pada persilangan benturan kekuatan global, kita berada di tengah denyut atau ledakan semesta yang mencemaskan dan kita tengah melewat sisa waktu yang disebut taun-taun suwung. Dalam kondisi yang demikian, revolusi mental saja tidak cukup. Diperlukan upaya untuk melakukan upaya untuk melakukan revolusi spiritual. Dengan revolusi spiritual maka kualitas spiritual kita akan dapat mendeteksi apa yang sesungguhnya dikersake oleh Pengeran terhadap hidup kita, terhadap masyarakat kita terhadap bangsa dan negara kita. Kalau sudah demikia maka mudah bagi kita untuk mengaktualkan kebenaran, menanam begitu banyak benih kebaikan dan mengibarkan bendera-bendera keindahan kemanusiaan kita.

Tema-tema besar seperti revolusi spiritual ini jika dapat dijadikan tema dan diturunkan menjadi tema-tema sastra Jawa akan dapat membuat sastra Jawa bergerak dan mampu menembus dunia. Tanpa usaha penggalian tema besar seperti ini, sastra Jawa dapat kehilangan kemungkinanannya untuk bergerak, alias mandheg, berada di tempat, dalam waktu yang lama. Bahkan sangat mungkin sastra Jawa akan mengalami apa yang disebut sebagai involusi budaya. Terjadi pergerakan di dalam diri sastra Jawa dan terjadi penggalian tema serius, juga eksperimentasi serius, tetapi terasa sekali kalau yang dilakukan adalah artifisial, bukan yang substansif. Yang dilakukan bukan sesuatu sing jero tenanan mirip pohon besar yang mempu menggerakkan akarnya sampat menembus batu, padas, tanah keras untuk kemudian akar itu mencapai tuk atau mata air. Dalam konteks sastra Jawa, mata air nilai Jawa inilah yang perlu dicari dan digali di tengah keras dan gersangnya kehidupan ini. Semoga demikianlah adanya.

Oleh: Mustofa W Hasyim (Ketua Komite Sastra Dewan Kebudayaan Kota Yogyakarta)

Leave a Reply