Nocturno Dua Tanda ##

Ndobos Bareng Ali Antoni

Sepulang dari percetakan menuju rumah, aku di jalan sempat merenung dua kali.

Pertama, saat di lampu merah dekat UGM, seorang anak jalanan usia sekitar 6 tahunan tampak lemas, lusuh dan duduk seperti putus asa menutup mata dan dagu.

Dia mungkin selesai mengemis,

Dan dalam tulisan ini aku gak ambil soal apakah memberinya recehan itu baik atau tidak, tapi yang sempat mengganggu pikiranku, dia kenapa lahir dr seorang gembel, bahkan kita sekalipun tidak semua bernasib baik memliki ibu mentri atau ayah seorang dokter.

Apa hak air mani menentukan ke mana ia bersarang?

Seorang bayi, siapapun ibunya, lahir suci, sama, tapi deritanya berbeda, nasibnya tak sama.

Apa yang menentukan si A lahir dr ibu pelacur dan si B dari rahim seorang ustadzah?

Semua kita tak bisa memilih, hanya bisa menjalankan peran, semua manusia dalam beberapa hal tak lebih dari sekedar wayang-wayang.

=====##=====

Lalu yang kedua, yang bikin aku merenung, saat aku melewati gereja pugeran, ini malam natal, malam kebaktian, cukup ramai parkiran, suara lonceng, lalu hening…

Tak ada suara bising seperti malam takbiran, mereka hanya beracara di dalam.

Aku tidak tau kenapa gereja tak pasang TOA karya monumental pasukan Nazi itu?

Apa karena di sini mereka minoritas?

Apa karena yang berhak berkonvoi, berteriak-teriak, memamerkan eksistensinya hanya yang mayor?

Kalau iya, benar teori tentang arena, siapa yang kuat ia yang berhak menguasai arena, yang kalah harus turun dan menyingkir.

Tapi apakah agama adalah sebuah pertarungan? Padahal Nabi bilang pertarungan terbesar adalah melawan diri sendiri, bukan melawan agama yang berbeda, apalagi melawan sesama kawan yang hanya karena berbeda madzhab, tim sepakbola.

Kalau begini terus, semoga tak ada perang karena beda warna dan ukuran beha ;”))

Penulis : Sayyidina Pengelola Fanspage Ndobos bareng ali antoni

Leave a Reply