Meniti Sunyi di Perpustakaan EAN

Sunyi itulah kesan pertama ketika masuk ke Perpustakaan EAN yang terletak di Gg. Barokah 287, Kadipiro, Yogyakarta. Siang itu, ada beberapa orang yang memang berada di dalam perpustakaan. Disini saya mendefinisikan sunyi berbeda dengan sepi, walau secara harfiah keduanya memang sulit dibedakan memang. Dan tulisan ini memang tidak untuk mendifinisikan apalagi memperdebatkan tentang apa itu sepi dan apa itu sunyi.

Tujuan saya siang itu datang ke Perpustakaan EAN ialah ingin menelusuri karya-karya dari Umbu Landu Paranggi. Seorang sastrawan yang dijuluki sebagai Presiden Malioboro ini menjadi guru sastra beberapa sastrawan terkenal di Republik ini, akan tetapi menelusuri karyanya memang setengah mati susahnya. Memang atas kemauannya sendiri lah beliau tidak ingin karyanya dipublikasikan. Konon ceritanya pada waktu itu karya-karyanya mau dimuat dalam majalah Horison, namun tengah malam sebelum cetak, ia menyelinap ke kantor dan mengambil karya-karyanya sebelum proses cetak itu terjadi. Namun beberapa karyanya telah dimuat di mingguan Pelopor Yogya dalam kolom Persada Studi Klub, beliau lah pengasuh Persada Studi Klub.

Penelusuran karya Umbu memang tidak mudah, disana ketika menyampaikan maksud untuk melihat karya-karya Umbu, saya lantas disodorkan tiga buah bundel tebal koran Pelopor Yogya, mungkin per bendel tebalnya kisaran 10-15 cm. Membukanya pun harus sangat hati-hati karena koran itu diproduksi sekitar tahun 70-an. Bisa dihitung sendirikan berapa usia kertas-kertas tersebut.

Disitu banyak pelajaran yang saya ambil, ternyata banyak sastrawan besar yang besar melalui rubrik kolom ini. Sebut saja Emha Ainun Nadjib, Iman Budhi Santosa, Erha Kartanegara, Mustofa W.Hasyim, Bambang Darto, Fauzi Absal, Ahmad Munif, bahkan W.S.Rendra, Todung Mulya Lubis, Arswendo Atmowiloto, Sitor Situmorang pun juga sering kali mengisi kolom itu.

Mengamati pergolakan dunia jurnalisme pada era itu memang menjadi sesuatu yang aneh memang, khususnya tentang penulisan dan desain layout. Untuk tulisan ternyata pada masa itu kaidah EYD memang bukan menjadi hal yang pokok, jadi tidak heran banyak kata yang disingkat. Tentunya tidak pernah saya temui di dunia jurnalisme saat ini. Dan saya tidak tahu alasan pasti kenapa pada masa itu gaya penulisannya seperti itu. Disitu juga bisa saya katakan juga tulisan-tulisan yang dimuat di media ternyata benar-benar dikontrol oleh aparat. Disana juga banyak sekali saya temukan media menjadi alat propaganda ke rakyat. Dan tahun 70-an propaganda masih berkutat dengan bahaya komunisme.Untuk layout juga masih sederhana dan simple, hal ini dapat saya maklumi pada era itu teknologi belum seperti sekarang yang apa-apa sangat mudah bisa diatur lewat komputer.

Pengamatan hal yang memang asing bagi saya ini lah yang membuat saya semakin penasaran tentang perkembangan dunia sastra dan jurnalisme di Indonesia. Terus terang saya sendiri memang jarang membaca karya-karya lama, ada beberapa memang yang saya baca tapi kebanyakan sudah versi revisi. Dan membaca karya lama yang masih orisinil seperti itu sangat menambah khasanah ilmu saya.

Tak terasa juga sudah sekitar empat jam saya menghabiskan waktu disana, kalau tidak mau tutup mungkin saya betah disana. Dengan konsep perpustakan santai, saya memang tidak merasakan seperti di sebuah perpustakaan. Salah satu hal yang paling saya suka adalah tempatnya memang smoking area, jadi untuk perokok seperti saya memang itu yang selalu dicari. Perpustakan itu memang selalu membuat saya kangen, apalagi penelusuranku tentang Umbu memang belum selesai. Dan untuk teman-teman semua, saya merekomendasikan Perpustakaan EAN adalah tempat yang layak dikunjungi untuk melahap ilmu.

Leave a Reply