Isabel Blumenkol

Pamusuk Eneste-Isabel Blumenkol

Hamburg, 24 Agustus 1981, Pamasuk Eneste menulis tentang Isabel Blumenkol. Seorang gadis yang dikaruniai wajah cantik. Perpaduan antara Lady Dy dengan penyiar Jerman Barat, Ulla Zittelmann. Tak heran, bila akhirnya ia dinobatkan sebagai Miss Dunia mewakili tanah kelahirannya di Hamburg. Setelah penobatan itu, Isabel langsung mendapat undangan resmi dari Menteri Perturisan Anuland untuk mengawali kunjungan wisatanya.

Bagi Isabel, undangan itu menjadi pelipur kerinduannya akan Anuland yang tak lain adalah merupakan tanah air dari ibu bapaknya. Ia lantas membayangkan keramahtamahan orang-orang di Anuland. Saat berada di dapur atau kamar mandi, Isabel bahkan kerap mendengar ibunya bernyayi mengenai Anuland. “Nyiur hijau, melambai di tepi pantai. Burung-burung berkicau di dahan. Sawah. Ladang menghijau permai.” Bagaimana sambutan hagat dari ribuan penduduknya berjajar di pinggir jalan menyambut kehadiran Sang Miss Dunia. Di kampung halaman orang tuanya itu, ada keinginan kuat dari dalam dirinya untuk menunjukkan, bagaimana anak seorang buruh kasar di pabrik tapal gigi dengan gaji 2.000 DM per bulannya itu berhasil dinobatkan sebagai Miss Dunia.

Namun, setibanya di lapangan terbang Anustadt, sambutan yang di dapatkan tak seperti yang diharapkan. Pernak-pernik kemewahan seperti dijanjikan Menteri Perturisan Anuland sama sekali tidak tergambar. Isabel tidak dijemput dengan Mercedes Benz paling mutakhir yang kebal peluru atau di setiap simpang empat disiagakan panser dan serdadu bersenjata berat lengkap dengan walkie talkie di setiap jalan. Durian runtuh yang dibayangkan Isabel sebelumnya lambat laun berangsur hilang. Bahkan untuk sebuah karangan bunga dan senyum ramah pun tidak ia dapatkan!

Sudah menjadi tradisi, bagi setiap negara untuk “memamerkan” perempuannya. Apalagi tujuannya untuk lebih “memperkenalkan” negara yang bersangkutan melalui perwakilan seorang perempuannya. Di sini, seorang perempuan yang berkesempatan dan terpilih itu seperti dipaksa untuk mengemban tugas yang jelas tidak ringan. Apalagi bila ia berhasil menang dalam mewakili negaranya itu. Tidak ada yang salah disini. Tetapi, bagaimana cara perempuan terpilih itu mengenalkan negaranya kepada negara lainnya. Apakah perkenalan itu hanya cukup diwakili dengan mengenakan pakaian tradisi lokal dari salah satu kota di negaranya saja. Apakah dengan begitu, warga dari negara-negara lain benar-benar bisa mengidentifikasi setiap lokalitas dari negara yang diwakilinya itu. Atau barangkali bukan itu intinya. Sebab dalam beberapa kesempatan yang ditonjolkan justru pakaian dengan model lain.

Anggaplah permasalahan itu sudah lewat dan kita berlanjut ke tahap berikutnya. Ketika kita telah menemukan seorang Miss Dunia batu di tahun ini atau miss perwakilan dari negara kita yang berhasil lolos dalam beberapa bilangan besar. Dari seorang Miss Dunia itu kira-kira apa yang bisa kita dapatkan atau setidaknya kita rasakan. Toh, selama ini kita hanya melihatnya dari balik layar kaca dan lembaran media cetak yang mengikutinya. Tentu kita tidak bisa berharap banyak. Seperti misalnya, seorang Miss Dunia itu akan mengantarkan ibu-ibu belanja ke pasar atau menyeberangkan anak-anak menuju sekolahnya. Tentang semua itu saya kerap bergumam sendiri dalam hati. Merangkai jawaban demi jawaban, meski pada akhirnya tetap saja bingung. Barangkali kita tidak boleh menaruh harapan terlalu besar. Sebab harapan besar seperti itu sulit untuk ditarik pada sebuah tindakan yang sifatnya lebih khusus dan pribadi. Jangankan terhadap para perempuan perwakilan Miss Dunia, setiap presiden yang datang silih berganti ini saja, rasa-rasanya hanya mampu menyentuh wilayah permukaan dari masalah keseharian kita. Tapi apa jadinya, bila perwakilan itu dipercayakan pada laki-laki. Yang tentu kalah lembut dibandingkan dengan kaum perempuan itu. Mungkin itulah, satu-satunya alasan kenapa dunia lebih memilih perempuan untuk kemudian dinobatkan sebagai Miss Dunia. Seharusnya ada tujuan yang lebih besar yang bisa disematkan kepada Miss Dunia itu. Sebab kita pun tahu, perempuan aalah makhluk paling spesial ciptaan Tuhan yang tentu sangat disayangkan bila hanya dimaknai sebatas slogan brain, beauty, behavior saja. Ada atau tidaknya pernobatan semacam Miss Dunia, perempuan tetap makhuk spesial dalam berbagai keadaan. Barangkali kesia-siaan itulah yang coba ditangkap oleh Pamasuk Eneste yang akhirnya menutup kisah dari Isabel Blumenkol ini dengan adagan pemerkosaan dan pembunuhan yang detailnya tidak perlu lagi saya ceritakan ulang.

Leave a Reply