Konsep Manusia Menurut Kebudayaan Jawa

Berbicara tentang pendidikan, pastilah terlebih dahulu berbicara tentang manusia karena setiap sistem pendidikan ditentukan oleh filsafat tentang manusia dan citra manusianya yang dianut, sehingga tidak pernah netral atau dengan kata lain ideologis. Menurut Y.B. Mangunwijaya, citra manusia tradisional Jawa pada hakikatnya adalah citra wayang belaka pada kelir jagad cilik (mikro-kosmos), jadi manusia hanya bayangan saja, tidak sejati. Hal itu sejajar dengan filsafat Ide dari Plato digerakkan oleh Ki Dalang (Tuhan Yang Maha Esa) di alam penentu sejati jagad gedhe (makro-kosmos). Segala peristiwa kehidupan manusia “wus dhasar pinasthi karsaning dewa” (sudah diniscayakan oleh kehendak para dewa).

Dengan konsep manusia seperti itu, maka prinsip pendidikan Jawa dan tradisional seumumnya lalu hanyalah penyadaran posisi, status, serta kewajiban murid/orang muda dalam piramida tatanan hierarkis yang sudah dipredestinasi oleh nasib. Bahkan nasib itu pun hanya sekunder sebagai wayang dalam tangan Ki Dalang. Atau terungkap lain: hanya fana, tidak sejati dibanding kehidupan akhirat yang baka dan sejati.

Kefanaan alias ketidaksejatian hidup di dunia ini terekspresi puitis oleh pandangan hidup rakyat Jawa: urip mono mung mampir ngombe (hidup hanyalah singgah sebentar untuk minum). Mangunwijaya mengutip konsep feodal piramidal hierarkis dalam Serat Paramayoga/Pustakaraja, misalnya ketat memperjelas posisi serta nasib manusia:

…saisining jagad iki kawengku dening dewa, kawengku ing nata, nata dadi isining jagad, marmane teka kaelokan, temah karsaning dewa iki denya arsa karya kabegjaning kawula, ananging dewa durung medhar saniskara, maksih sarana sabdaning nata. (…isi dunia ini terbingkai indah oleh dewa, terbingkai oleh raja, raja hanyalah substansi dunia; belas kasih dari yang indah menakjubkan, takdir kehendak dewa ini bermaksud membuat bahagia para abdi, tetapi dewa belum menyatakan wahyu kemanisannya selain lewat perantaraan amanat raja).

Basa kang nitahake iku dewa; kang anganakake iku ya yayah rena; kang ambungahake iku guru; kang amuktekake iku ratu; kang ambungahake iku maratuwa. Lima-lima iku padha milalati. (Bahwa yang mencipta ialah dewa; yang melahirkan ialah ayah-ibu; yang membuat bahagia itu guru; yang membuat kaya kuasa itu raja; yang membuat gembira ialah mertua. Kelima-limanya itu bila tidak dipatuhi akan membawa celaka)

Dalam konsep manusia lama Jawa,kedudukan manusia dalam pendidikan tidaklah lebih dari menggiring si anak dan memupuk tunas-tunas muda ke pengintegrasian diri dalam seluruh adat-istiadat dan kebudayaan orang tua serta nenek moyang secara tradisional. Kegiatan itu disebut proses sosialisasi, sekaligus mereproduksi anggota-anggota masyarakat yang berpikir da berbudaya sama melestarikan serta memperkuat sistem yang sudah ada.

Pendidikan sebagai sosialisasi tida melihat anak memiliki nilai tersendiri, berkepribadian unik dengan status bermartabat sebagai manusia yang harus dihormati, anak hanyalah bernilai sekunder, yang primer ialah kedudukan, kepentingan dan penghidupan kolektivitas. Maka, sosialisasi berikhtiar menggiring warganya untuk tahu diri dalam sistem pahala dan status.

You may also like

Leave a Reply